Skip to main content

Posts

Showing posts from January, 2014

Kulit Atau Isi (1)

Mendung menggelayut seantero kota Pemalang, sang mentari seakan kalah pamor dengan awan yang berarak membawa air barokah dari langit, maka gerimis pun turun, Pemalang mandi basah, tak sejengkal tanahpun yang dibiarkan kering. Dedaunan menari terkena terpaan ribuan butiran air yang terlihat bagaikan kilau mutiara. S uasana begitu romantis terutama bagi pasangan muda mudi yang sedang memadu kasih, jeileee... mungkin gak sih..? he.. he.... yah....begitulah, lebih enak bagi yang udah nikah dong tentunya, nyesel loh bagi yang belum maried. Makanya nikah sana! Emang apa sih yang bikin banyak kawula muda lebih suka ngejomblo apalagi yang udah kepala empat. emang ada yang begitu? Ooo.... jangan tanya. Masih ada loh, mau minta berapa? Sekodipun ada. He he he... sebenarnya ada banyak kemungkinan kenapa mereka masih betah menyandang status jomblo. Mungkin mereka menganggap kalau punya istri jadi rempong kali yaaa, apapun serba diatur gak bisa bebas bagai merpati apalagi ntar kalau dah...

Memori Arimbi 1

Langit sedikit agak mendung, pagi itu matahari masih enggan menyeka awan yang menghalanginya, lalu lalang orang melintasi jalan serayu, terlihat sebuah gubuk dengan atap rumbia terletak dari jalan agak menjorok ke dalam tepat di samping TPQ tempat anak-anak belajar membaca Al-Qur’an, itulah Arimbi nama sebuah gubuk tempat nongkrong para pemuda jomblo berkreasi. B erderet orang ber jualan, banyak toko kecil ataupun warung, dari warung makan sampai warung klontong disepanjang jalan serayu kelurahan Kebondalem di kota kecil tempat Mogal menatap masa depan yaitu Pemalang. Suara dengkuran masih saja terdengar bagaikan gemuruh suara diesel dari dalam gedung TPQ, biasa para bangsawan ( bangsane wong tangi awan : bahasa orang Jawa : Kebondalem) sedang menikmati tidurnya setelah begadang semalaman . burung kacer berloncatan sambil berkali kali memamerkan keahliannya dalam mendendangkan lagu khas kacer sesekali m encoba menusuk gendang telinga , namun semua itu tak mampu menggoyah...

Memori Arimbi 2

Lanjutan ............... Tak perlu menunggu lama, Ce-er pun dengan cekatan melaksanakan komando dari Mogal. “Assalamu alaikum”, ertene diikuti klungce dan wanoreh datang dengan mata yang agak lembab akibat dari perjalanan yang cukup jauh di alam mimpi. “Waalaikum salam, silakan bergabung kembali.” “ A da pesanan gal?” tanya erte “ Y a ini ada pesenan kaos.” Jawab Mogal sambil memasang satu persatu kaos ke bidang triplek yang telah dioles dengan lem meja. “Guprak!”, tiba-tiba saja terdengar suara yang membuat mereka kaget, tanpa dimayoret kontan saja mereka keluar melihat ada apa sebenarnya yang terjadi di luar. “ M as tolong aku”, dengan nafas tersengal-sengal sambil menangkap tangan ertene yang baru saja keluar, erte dan mereka pun bingung dan diliputi bertrilyun rasa penasaran yang siap untuk dijadikan soal pertanyaan( he he.. agak lebay )

Romantika Pendidikan 2

Lanjutan ............. Mungkin kejadian ini pernah juga ada ditempat lain, memang tingkah polah anak ada banyak sekali factor yang mempengaruhinya, factor lingkungan di rumah disinyalir p aling besar menyumbang terbentuknya pribadi anak, sehingga lingkungan sekolah yang baik sangat membantu untuk bisa menekan laju pertumbuhan akhlak buruk anak-anak kita. “Y ang saya ceritakan ini kemungkinan besar pernah anda dengar, di suatu desa minuman keras bukanlah hal yang asing dijumpai a p alagi di daerah pantura yang dekat dengan laut, minuman keras seperti minuman biasa sehingga tempatnyapun tidak di botol lagi, namun di teko atau poci. Tak ayal lagi anak-anak usia sekolah sudah banyak yang mencicipi minuman beralkohol tersebut, kalau sudah demikian lantas bagaimana? Mampukah sekolah menetralisir atau bahkan menghentikan kebiasaan orangtua murid untuk tidak minum minuman yang memabokkan tersebut? Ini adalah PR terberat bagi guru dengan lingkungan semacam ini. Yang jelas selagi p...

Romantika Pendidikan 1

Mata melotot dengan tangan ber tengger di pinggang serta raut muka dibuat serem, tiga baris kancing baju atas ke bawah dibuka terlihat kalung di dadanya, ya itulah Wano nama panggilan seorang siswa SDN Damparkarangan x Kebondalem Pemalang. D engan suara lantang layaknya calo bus omprengan trayek Pemalang Tegal yang sedang mencari penumpang, dia membentak teman-temannya yang berada di dalam kelas “duduk! Berani berdiri sama halnya menentangku, preman beken super ganteng agak krempeng sedikit dikelas ini, ha ha ha…    T ida k seorangpun teman satu kelas yang berani berdiri a p alagi bergerak persis seperti sapi yang dicocok hidungnya. Badannya kecil, kerempeng, muka morfinis mungkin jika tertiup angin putingbeliung, dia akan terbang melayang . P adahal temannya yang memiliki postur tubuh lebih besar dari dia banyak , tetapi   fenomena aneh terjadi di sini, mereka takut dengan Wano si anak ceking dengan tampilan casing jadul ibarat kata handphon...

Tehpoci Gulabatu part2

“ M aaf masalahnya bukan ada atau tidak ada, saya baca di beberapa situs maupun dikoran bahwa ada seorang menteri yang “nesu” karena pidatonya ditandingi dengan suara adzan yang dikumandangkan bersamaan dengan pidato sang menteri”. Jelas wanoreh seorang pemuda lajang yang rajin membuka internet dan hobi baca. “ W ah kalau itu sih bukan ekstrim lagi, tapi “kualat”. Apa dia tidak sadar sedang bersaing dengan siapa? Kumandang adzan boleh dari suara rakyat jelata. Tapi hakekatnya itu kan suara Allah Subhanahu wata’ala yang sedang menyeru hambanya untuk menunaikan kewajiban s h olat, sama Allah kok ya ngelawan, kalau ada istilah yang lebih kasar dari kualat terus apa coba?” tarjo pun yang dari tadi mengepulkan asap rokok tergoda untuk menanggapi berita tersebut.

Tehpoci Gulabatu part 1

Kalau tehpoci gulabatu sudah di depan mata mereka, apalagi dibumbui dengan segarnya jeruk nipis yang menghiasi bibir gelas mungil yang terbuat dari tanah, maka perbincangan mereka menjadi “gayeng” lupa orang rumah, lupa hutang segunung, dan yang penting gak lupa daratan he he he… Suasana siang yang sangat terik , keringat pun mengalir di sekujur tubuh. Mentari membakar badan kekar dan hitam legam man Draup (begitu orang memanggilnya) sambil mengayuh kendaraan khasnya roda tiga dengan body yang sangat variatif berkolaborasinya antara besi dan kayu seiya sekata selaras membantu tuannya mencari nafkah buat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Orang menyebut kendaraan tersebut dengan sebutan becak, sebuah kendaraan yang bernasib malang karena telah diberangus habis oleh tentara satpol PP tanpa sisa dari ibu kota , tapi jangan khawatir, karena yang diceritakan bukan di Jakarta tapi di Pemalang jadi masih aman-aman saja nasib becak di sana. “ P ak, sirandu !” tiba-tiba saja di teng...