Mata melotot dengan tangan bertengger di pinggang serta raut muka dibuat serem, tiga baris kancing baju atas ke bawah dibuka terlihat kalung di dadanya, ya itulah Wano nama panggilan seorang siswa SDN Damparkarangan x Kebondalem Pemalang.
Dengan suara
lantang layaknya calo bus omprengan trayek Pemalang Tegal yang sedang
mencari penumpang, dia membentak teman-temannya yang berada di dalam kelas “duduk!
Berani berdiri sama halnya menentangku, preman beken super ganteng agak
krempeng sedikit dikelas ini, ha ha ha… Tidak seorangpun teman satu
kelas yang berani berdiri apalagi bergerak persis
seperti sapi yang dicocok hidungnya.
Badannya
kecil, kerempeng, muka morfinis mungkin jika tertiup angin putingbeliung,
dia akan
terbang melayang.
Padahal
temannya yang memiliki postur tubuh lebih besar dari dia
banyak,
tetapi fenomena aneh terjadi di sini,
mereka takut dengan Wano si anak ceking dengan tampilan casing jadul ibarat
kata handphone.
Tak selang
beberapa waktu si kinong yang kebetulan duduk di pojok paling belakang, berdiri
sambil nunjuk-nunjuk kearah Wano, kontan saja keluarlah tanduknya dan siap
menyeruduk si kinong, “Kamu sudah berani main tunjuk-tunjuk sama aku ya, tahu gak
apa akibatnya?” begitulah ancaman yang sangat familier di telinga
kinong dan kawan-kawan.
Dengan ketakutan
Kinong berucap, maaf tar, belakang kamu…..”. Belum selesai
si kinong berbicara seakan ada petir menyambar pita suara Kinong, sehingga
tanpa dikomando suara Kinong berhenti seketika.
“Apa kamu bilang?
tar… tar…. emang aku gitar, sembarangan! nglonjak ya kamu, sekali lagi kamu
berani begitu sama preman ganteng, bogem mentah sudah saya siapkan buat kamu”.
Sambil mencak-mencak layaknya sipitung dari betawi, sampai-sampai tangan
kanannya sempat mendarat pada sebuah benda empuk agak keras.
“Wano!”
teriak seseorang dengan suara agak berat tepat dibelakangnya,
seseorang berbadan tegap, dengan pakaian safari berpeci dan kacamata bertengger
di atas hidungnya. Ia tidak menyangka kalau tangannya menampar wajah sang guru.
“ma..ma..maaf
pak, tidak sengaja.” Dengan gemetar Wano meminta maaf kepada gurunya.
“apa apaan
ini?” Tanya pak Bakri
“nggak ada
apa-apa kok pak”, jawab Wano
“terus kamu
didepan kelas bentak-bentak temanmu, maksudnya apa?” Tanya pak Bakri keheranan.
“a…a…anu pak
guru, eemm…. Ini tadi kami sedang belajar akting pak,
saya memerankan tokoh antagonis, truss nanti gantian teman-teman
maju setelah giliran
saya.” Begitulah jawaban Wano
layaknya seorang diplomatik tingkat RT, dengan memandang temannya satu persatu
sambil dikerlingkan matanya sesekali melotot, dimaksud agar temannya mengamini.
“trus itu
matamu kenapa?”
“nggak apa-apa
pak, mataku ini tadi sepertinya kemasukan debu.”
“memangnya
kalau kemasukan debu harus melotot?” aneh-aneh kamu, sudah duduk sana ke
tempatmu, kita mulai pelajaran Matematika.”
Begitulah
keseharian Wano sang preman kelas 4 yang selalu saja usil, sehari saja tidak
usil seakan akan kehilangan duit ratusan ribu. Dasar Wanoreh (nama lengkap
Wano) preman jadi - jadian dari SD Damparkarangan, hehe..
Comments
Post a Comment