Lanjutan ...............
Tak perlu menunggu lama, Ce-er pun dengan
cekatan melaksanakan komando dari Mogal.
“Assalamu alaikum”, ertene diikuti
klungce dan wanoreh datang dengan mata yang agak lembab akibat dari perjalanan
yang cukup jauh di alam mimpi.
“Waalaikum salam, silakan bergabung
kembali.”
“Ada
pesanan gal?” tanya erte
“Ya
ini ada
pesenan kaos.”
Jawab Mogal sambil memasang satu persatu kaos ke bidang triplek yang telah
dioles dengan lem meja.
“Guprak!”, tiba-tiba saja terdengar suara
yang membuat mereka kaget, tanpa dimayoret
kontan saja mereka keluar melihat ada apa sebenarnya yang terjadi di luar.
“Mas
tolong aku”, dengan nafas tersengal-sengal sambil menangkap tangan ertene yang
baru saja keluar, erte dan mereka pun bingung dan diliputi bertrilyun rasa
penasaran yang siap untuk dijadikan soal pertanyaan(he he.. agak lebay)
“Tenang,
ada apa?, yuk masuk dulu ke arimbi,” ajak ertene
“Silakan
duduk, atur nafasmu lalu ceritakan, kamu siapa, dari mana, trus apa yang sedang
kamu alami?” Tanya erte
Di dalam arimbi yang dipenuhi dengan bau
khas obat-obatan sablon orang tersebut menceritakan duduk perkara yang dialami,
ternyata dia sedang dikejar-kejar oleh kakaknya yang membawa gergaji untuk
memotong lehernya.
“Bukanya
aku takut dengan kakakku, tapi aku sangat malu dengan masyarakat sekitar,
agalagi keluargaku dikenal dari keturunan orang yang saleh, orangtuaku adalah
seorang pemuka agama”. Tutur orang tersebut.
“Maaf
kalau boleh tahu siapa nama kamu?” Tanya Mogal.
“Namaku
saidun”. Jawab orang itu
“Nama
yang bagus, sesuai namamu orangtuamu menghendaki kau menjadi orang yang bahagia..” Ertene menimpali
“Tapi
hari ini seakan keceriaanku pudar, yang ada hanya kegelisahan”. Sahut saidun.
Saidun kembali bercerita tentang masalahnya kepada Mogal
dan teman-temanya, ia bercerita bahwa kakaknya tidak setuju kalau saidun memiliki
seorang pacar sebab dirinya saja belum ada satupun wanita yang mendekatinya.
“Ha ha ha ha.... mereka serentak tertawa mendengar
penuturan dari saidun.
“Kenapa tertawa?” tanya saidun dengan wajah
terbengong-bengong.
“Ya iyalah kami tertawa, bukan ngetawain kamu, tapi
kakakmu itu loh. Masa adiknya laku dia malah sewot.” Jawab wanoreh yang dari
tadi tampak serius mendengar cerita saidun.
“Ya begitulah kakakku, orangnya kaku, emosional gak
seneng melihat adiknya bahagia.” Sahut saidun
“Assalamu alaikum..” tiba-tiba ada suara salam, dan yang
mengherankan saidun mendadak gemetaran.
“Waalaikumusalaam...serentak mogal dan teman-teman
menjawab salam. Nampak seorang dengan mata agak merah dan nafas agak sedikit
tersengal terlihat gergaji tergengam di tangan kanannya.
“ Wah ini mungkin kakak saidun”, gumam mogal
“ Saidun! Ternyata kau sembunyi disini ya, tidak sopan
kamu, ayo pulang!” bentak kakaknya.
“Sabar mas, tenang......, masalah harus diselesaikan
dengan kepala dingin, kalau dengan emosi yakinlah akan berakhir penyesalan,
maaf bukan bermaksud mencampuri urusan kalian berdua. silakan duduk. Gak baik
bicara sambil berdiri.” Erte mempersilakan kakak saidun untuk duduk.
“Baiklah, terima kasih telah mempersilakan aku duduk.
Saidun, ayo pulang, kenapa tadi dipanggil kok malah lari, memang kenapa?” tanya
kakak saidun
“Bagaimana gak lari, kakak bawa geraji. Kalau emang kakak
gak terima aku punya pacar, ya sudah ! nggak perlu resek, rempong banget sich,
ngapain kakak mau bunuh adiknya sendiri pakai geraji? Emang kakak pengen
terkenal ya, masuk acaranya Bang Napi?” ujar saidu
“Ha ha ha..., kamu ini bagaimana sih, serem bangeeet.
Begini loh.. bukannya aku tidak terima, kalau emang kamu punya pacar ya silakan
saja, nggak ada yang larang, sehabis kamu cerita tentang pacarmu itu, karena
kakak kira sudah selesai ceritanya, kakak ke dalam rumah nyari gergaji buat
motong bambu yang kemaren dibeli ayah, kok kamu malah lari, aku pengin kamu itu
ngebantu bikin pagar keliling rumah kita, makanya kakak ngejar kamu.” Kakak
saidun sedikit memberi penjelasan kepada adiknya.
“Oo gitu ya kirain kakak mau motong leher aku”. Sahut
saidun
“Ayam kaleee, ya sudahlah sekarang mari kita pulang.
Bantu kakak, kemaren ayah pesen pagar rumah agar segera dibikin, kalau kamu
bantu kan jadi cepet kelar, sekalian saya minta maaf sudah merepotkan kalian
dan kami mohon diri.” Sambil menggandeng adiknya kakak saidun melangkah keluar
Arimbi dengan uluk salam.
Mogal dan teman-temanya pun serentak menjawab salam dan
kembali melakukan aktifitasnya seperti biasa setelah ada sedikit kesalahan
teknis. He he he ..emang sound system...?!
“Nah begitu ceritanya, emang sih terasa hambar, tapi dari
pada sepi gak ada yang dateng hari ini, emang pada kemana sich Kang Klung
(Klungce)?” Ternyata Wanoreh yang dari tadi asyik cerita.
“Kagak tahu juga sih, yah.. mungkin karena hujan mereka
jadi males ke sini.” Ujar Klungce
“Assalamu alaikum.” Tak lama ternyata muncul Mogal dengan
tentengan kertas blanko undangan.
“Habis belanja ya kang?” tanya Wanoreh
“Ya begitulah, kemaren Mulyoto ke rumah minta tolong
bikinin undangan buat pernikahannya.”
“Wah jadi nikah juga dia, padahal orangtua si Arti sudah
menentang keras loh.” Kata Klungce
“Yaa begitulah jodoh, yang tahunan pacaran, eh Cuma satu
jam hilang bagai debu tersapu angin. Yang ditentang begitu hebatnya oleh ortu,
justru malah jadi. Namanya jodoh, adalah misteri dan rahasia Ilahi yang tak
seorangpun mengetahuinya.” Sahut Mogal
“Ngemeng ngemeng jodoh, saya jadi kasihan sama si kumis
ya, padahal umurnya sudah kepala empat.” Sambung Wanoreh
“Udahlah gak usah ngomong jauh jauh kamu sendiri gimana?
Kok bisa kekasih hatimu bisa disamber orang ? tanya Klungce
“He he he itulah jodoh.” Jawab Wanoreh singkat
“Kamunya yang kurang tegas, harusnya begitu orang tua
Iteng tanya langsung saja bilang siap.”
“Ya sudahlah Cee orang namanya sudah terjadi gak usah
dibahas. Kayaknya cukup nich kang Cee, saya undur diri, gampanglah besok ketemu
lagi, oya berapa semua? Tempe goreng satu, rokok satu batang, teh poci, teruus,
udah kayaknya. O ya ada yang ketinggalan tambah satu batang korek api, he he
he...”
“Lima ribu, untuk batang korek apinya saya kasih gratis
ha...ha....ha” jawab klungce sambil mengambil cangkir dan poci bekas minum
Wanoreh.
“Assalamu alaikum, wanoreh pun akhirnya berpamitan pulang
sambil mengucap salam. Klungce secara otomatis menjawab uluk salam dari wanoreh
pengusaha sukses menara 100watt.
“ Waduh, ada yang tersinggung nich.” Kata Mogal sambil
memandang Wanoreh yang melangkahkan kakinya keluar warung.
“Biasa saja, Wanoreh emang orangnya gitu, dia gak akan
tersinggung kok, dari tadi sebenarnya dia sudah mau pamit cuma lihat kamu
datang jadi ditunda pulangnya.” Jawab Klungce
“Oo gitu ya, saya minta tehpocinya dong.”
“Baik saya bikinkan dulu, silakan camilannya dulu
dipersilahkan untuk dinikmati.”
Dari luar warung terlihat dua orang berbincang antara
Mogal ditemani Klungcee entah apa yang sedang diperbincangkan, yang jelas
berbincang dengan ditemani tehpoci gula batu apalagi gerimis mengundang,
menambah kehangatan dan romantisme suasana sore itu.
Dikutip dari : Buku Tehpoci Gulabatu

Comments
Post a Comment