Kalau tehpoci gulabatu sudah
di depan mata mereka, apalagi dibumbui dengan segarnya jeruk nipis yang
menghiasi bibir gelas mungil yang terbuat dari tanah, maka perbincangan mereka
menjadi “gayeng” lupa orang rumah, lupa hutang segunung, dan yang penting gak
lupa daratan he he he…
Suasana siang
yang sangat terik, keringatpun mengalir di
sekujur tubuh. Mentari membakar badan kekar dan hitam legam
man Draup (begitu orang memanggilnya) sambil
mengayuh kendaraan khasnya roda tiga dengan body yang sangat variatif
berkolaborasinya antara besi dan kayu seiya sekata selaras
membantu tuannya mencari nafkah buat memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Orang menyebut kendaraan tersebut dengan sebutan becak, sebuah kendaraan yang
bernasib malang karena telah diberangus habis oleh tentara satpol
PP tanpa
sisa dari ibu kota, tapi jangan khawatir, karena yang diceritakan bukan di
Jakarta tapi di Pemalang jadi masih aman-aman saja nasib becak di sana.
“Pak, sirandu
!” tiba-tiba saja di tengah jalan seorang ibu dengan belanjaan menyetop man Draup.
“Maaf bu, saya
lagi mau istirahat dulu.” Sahut man Draup dengan
tergesa-gesa seakan ada sesuatu yang sangat berharga menunggunya.
Kayuhan dari
kaki yang masih terlihat kuat itu terus bergerak, becak pun melaju dengan kecepatan
dua kali lipat dari biasanya. Setelah lama mengayuh Nampaklah di depan
tepatnya sebelah kanan jalan ada pertigaan dan becak menikung menelusuri jalan yang belum sempat direnovasi
oleh pemda setempat yang dipenuhi dengan kerikil tajam dan sangat berdebu
memaksa manDraup harus super hati-hati kalau tidak ingin ban becaknya bocor
tertusuk kerikil yang dengan congkaknya berdiri menantang menghunuskan ujung
runcingnya. sampailah ia di sebuah surau kecil berlokasi di persawahan
luas. Ternyata waktu sudah mengharuskan man Draup untuk segera menunaikan
sholat dhuhur.
Dari dalam
brangkas becaknya man Draup mengambil sarung dan peci yang sudah ia persiapkan
dari rumah. Setelah ambil air wudhu man Draup segera mengumandangkan adzan
sebagai pertanda telah masuk waktu menunaikan sholat dhuhur.
Man Draup
seorang muadzin dia sudah puluhan tahun menjaga waktu sholat di surau kecil
tengah sawah tersebut. Walaupun dia bekerja sebagai tukang becak namun dia
sangat menjaga waktu sholatnya. Dia tidak pernah merasa berat. Dia juga tidak
pernah mengeluh atau menghawatirkan tentang rezeki, karena sesunggunya rezeki
sudah diatur oleh Allah Subhanahu wata’ala, dan tidak akan tertukar dengan
orang lain, walaupun begitu Dia tidak bermalas-malasan, karena ia memiliki
keyakinan bahwa rezeki di tangan Allah tetapi kalau tidak kita ambil maka
selamanya akan di tangan-Nya dan gak akan turun begitu saja, jadi tetap harus
diperjuangkan. Man Draup adalah seorang yang memiliki keyakinan yang tinggi
kepada Allah, kalau kita mau jaga sholat, maka tidak ada yang perlu dirisaukan,
Allah yang akan menjaga kehidupan kita. Jaminan rezeki juga merupakan suatu
keniscayaan bagi orang yang bertaqwa.
Surau yang
letaknya jauh dari perkampungan dengan di kelilingi oleh rerimbunan pohon yang
besar menambah kesejukan bagi orang singgah di surau itu. Kesejukannya sangat
dimungkinkan karena surau adalah tempat berkomunikasinya manusia dengan
Allah subhanahu wataala. Sehingga setiap hembusan nafas, butiran air yang jatuh
dari langit serta sorotan sinar matahari, terdengar suara tasbih, tahmid,
takbir dan kalimat toyibah yang lain sampai menelusup ke relung-relung hati
hambanya yang rindu akan kesejukan jiwa.
Keberadaan
surau ditengah lahan persawahan yang luas sangat membantu pejalan kaki maupun
berkendara yang hendak melakukan sholat tanpa perlu berjalan berkilo kilo ke
perkampungan.
Man Draup
bukanlah satu-satunya orang yang menjadi jamaah tetap di surau tersebut.
Wanoreh, tarjo, dan mogal adalah sahabat yang selalu menemani man Draup
berjamaah.
Seusai sholat
dhuhur man Draup dan ketiga sahabatnya tersebut biasa menghilangkan rasa
lelahnya di warung bawah pohon asem disamping surau.
“Kang Draup,
jarang yah orang yang seperti kita.” Ceplos wanoreh
“Memang kita
kenapa Wan?” man Draup bertanya sambil berjalan menuju
“rungwanom” maksudnya warung bawah sinom (daun asem)
“Ya iyalah coba
saja liat kebanyakan orang dengan kesibukannya, mereka banyak berdalih dan
mengemukakan berbagai alasan untuk segera menunaikan sholat. Yang ada malah
telinganya seperti disumpel, sehingga suara adzan yang berkumandang tidak
didengar, justru kalau ada yang mengingatkan mereka bilang tanggung. Malah ada
yang ekstrim loh.” Wanoreh sengaja memancing rasa penasaran para sahabatnya.
Tidak butuh
waktu lama untuk bisa sampai rungwanom keempat orang tersebut sudah sampai di
depan warung.
“Assalamu
alaikum warohmatullahi wabarokaatuh.” Mogal mengucapkan salam mewakili ketiga
sahabatnya kepada sang pemilik warung tersebut.
“Wa’alikumus
salam warohmatullahi wabarokaatuh waridhwaanuh” terdengar suara cempreng dari
dalam warung wanom menjawab salam dengan lengkap. Dan tidak lama sesosok
berbadan gendut keluar dari dapur warung.
“ Silakan duduk,
mau pesan apa? Tehpoci semua, atau barangkali ada yang menginginkan kopi?”
bedul sang pemilik warung menawarkan kepada mereka.
Sambil duduk dan meraih rokok yang tersedia di
meja Tarjo menjawab : “biasa.. semua tehpoci gulabatu dan jangan lupa kasih
jeruk nipisnya ya.”
“ Siap ! segera
laksanakan, sambil nunggu silakan mendoannya, blanggem, timus, jotosan, atau
yang lain bisa disantap terlebih dahulu sebagai cemilan”. layaknya seorang
salesman yang professional Bedul melancarkan strategi pemasarannya.
“Oya,
menyambung pembicaraan tadi, memangnya yang ektrims seperti apa dan siapa
pelakunya?” ternyata mogal masih saja penasaran dengan pernyataan Wanoreh.
Bersambung......
Comments
Post a Comment