Langit sedikit agak mendung, pagi itu matahari masih enggan menyeka awan yang menghalanginya, lalu lalang orang melintasi jalan serayu, terlihat sebuah gubuk dengan atap rumbia terletak dari jalan agak menjorok ke dalam tepat di samping TPQ tempat anak-anak belajar membaca Al-Qur’an, itulah Arimbi nama sebuah gubuk tempat nongkrong para pemuda jomblo berkreasi.
Berderet orang berjualan, banyak toko kecil ataupun warung, dari warung makan sampai warung klontong disepanjang jalan serayu kelurahan Kebondalem di kota kecil tempat Mogal menatap masa depan yaitu Pemalang.
Suara
dengkuran masih saja terdengar bagaikan gemuruh suara diesel dari dalam gedung
TPQ, biasa para bangsawan (bangsane wong tangi awan : bahasa orang Jawa : Kebondalem) sedang menikmati tidurnya
setelah begadang semalaman.
burung kacer berloncatan sambil berkali kali memamerkan keahliannya dalam mendendangkan
lagu khas kacer sesekali mencoba
menusuk gendang telinga, namun semua itu tak mampu menggoyahkan posisi mereka
dari peraduannya. Yah... begitulah mereka masih bujangan. belum punya tanggungan. juga gak ada yang nunggu di
rumah.
Heran juga Mogal, bagaimana mungkin mereka bisa membangun
rumah tangga kalau pagi saja belum bangun. bagaimana membangun mindsite positif
kalau subuh aja kagak bisa bangun, apalagi lebih luas lagi membangun bangsa,
wuiiiiih jauuuh amat. Tetapi ya sudahlah, biar saja mereka menjalani
kehidupannya, tak berpengaruh sedikitpun pada rutinitas Mogal dalam melayani banyak
orang yang butuh cetak mencetak. Kegiatan rutin ini biasa Mogal kerjakan di
Arimbi nama sebuah gubuk di samping TPQ yang dibangun dengan sangat sederhana
sekali (S3) disanalah kreatifitas bermunculan demi memuaskan para pelanggan
percetakan Arimbi.
Kurang asyik rasanya kalau beraktifitas tanpa alunan
music, sehingga tak heran jika Arimbi full music tak kalah dengan odong-odong
ataupun kafe, tak ada diskriminasi jenis music, semua masuk dari pop, dangdut,
tarling, gambus, hadroh, kecuali lagu rohani gereja, he he maklum mereka kan
muslim.
“Tetaplah besar matahariku, menangis yang keras
janganlah ragu, tinjulah congkaknya dunia buah hatiku doa kami di nadimu”. Itulah lagu favorit Mogal kala
itu, syair syair iwan flash yang selalu menggugah semangat untuk menaklukkan
kejamnya dunia.
“Assalamu
alaikum?”
“Waalaikum salam, jawab Mogal,
ternyata Ami Jafar datang seperti biasa menawarkan minyak wangi.
“Bagaimana
kabarnya Gal?”Tanya
Ami Jafar
“Alhamdulillah baik dan sehat, ada yang
baru?” begitulah Mogal menjawab sambil menanyakan barangkali ada minyak wangi
yang baru.
“Ada
gal, ini minyak blimbing bosok”. Respon kilat dari ami Jafar.
“Wah
jangan yang bosok dong, pasti gak enak baunya.”
“Eiiit,
jangan salah, itu hanya nama, kamu kan beli minyak, bukan namanya, coba saja
niiih”. Ami Jafar menempelkan botol kecil kehidung Mogal seakan ingin
membuktikan hasil penemuan barunya.
“Bagaimana?....enak
kan baunya? Begitulah ami Jafar sambil menanyakan pendapat Mogal tentang
wanginya minyak blimbing bosok.
“Iya
enak juga siih, tapi aku punya usul, kalau bisa namanya yang keren dong, masa
dikasih nama blimbing bosok, bagaimana sih”. Mogal mencoba kasih masukkan.
“He
he he… itulah gunanya belajar, kamu tahu gak sifat manusia? “
“Emang
apa ami? Terus kaitannya dengan blimbing bosok…….?”
“Manusia
adalah makhluk yang punya sifat penasaran dan cenderung melawan, contoh
kalau dibilang jangan dibuka! Apa reaksinya? Kemungkinan besar dibuka, dia penasaran
emangnya ada apa sih kok gak boleh dibuka. Nah makanya kalau ane kasih nama “
minyak harum semerbak” maka itu sangat biasa, orang juga gak akan tertarik, paling sama dengan yang lain,
begitu nanti mereka bilang, justru dengan nama blimbing bosok mereka penasaran
kepengin tau bagaimana sih wanginya minyak blimbing bosok?”
“oooh gitu ya, baru ngeh aku”. Kata Mogal
“Bagaimana, jadi mau ambil berapa biji?” Tanya ami jafar
“Satu
saja cukup, kalau aku borong semua ntar ente jarang silaturahmi ke sini.” Kilah
Mogal.
“Yang
lain ada banyak, mungkin mau ambil yang lain juga.” Lanjut Jafar sambil membuka
tasnya untuk mencari minyak blimbing bosok pesanan Mogal.
Jafar adalah seorang keturunan arab,
orangnya bersahaja, ada banyak hal yang bisa ditiru dari kehidupan jafar,
beliau orang yang ulet, bekerja tetapi tidak “ngoyo” atau memaksakan diri.
Biasanya jam Sembilan beliau sudah keluar rumah dan kembali lagi saat dhuhur
tiba. Menurut penuturan banyak orang tanpa kerjapun sebenarnya beliau sudah ada
jatah kiriman berupa uang dari Saudi secara kontinyu, tetapi beliau tidak mau
hanya berpangku tangan.
“Berapa
ami?” Tanya Mogal soal harga minyak yang dipesan tadi.
“Rp. 5000,- gal”, sahut jafar
“Baik
ini uangnya, pas saja biar gak usah cari kembalian”.
“Terima
kasih, semoga daganganku hari ini barokah, amin”.
“Ya
saya doakan mudah-mudah laris manis tanjung kimpul dagangannya habis duitnya ngumpul,
terima kasih saya beli ya”. Begitulah kebiasaan Mogal dalam jual beli walaupun
nilainya hanya beberapa rupiah saja.
“Saya
juga jual”, ami jafar menimpali,
“Sekalian
saja saya pamit karena mau ke pasar pagi”, ami Jafar pun akhirnya pamit dari tempat
Mogal berinovasi dan berkreasi.
Suasana kembali menjadi seperti sediakala
hanya tape recorder yang menyanyi
menemani Mogal beraktifitas, tetapi biasanya sebentar lagi banyak
teman-temannya yang datang walau hanya sekedar menemani atau juga kadang ada
yang membantu.
Tepat seperti apa yang Mogal sangka,
datang seorang dengan sepeda ontel cap zebra atau carok, dia sering dipanggil
oleh teman – teman dengan sebutan Ce-er atau pathkae seorang yang sering
menemani Mogal dan membantu mengerjakan pesanan.
“assalamu alaikum warohmatullah”
“wa’alaikumus salam warohmatullahi wabarokaatuh waridhwanuh”. jawab Mogal.
“ada pesanan apa nich mas?”
“oya ini pesanan kemarin kok, orang mau
bikin kaos untuk kostum bola, dan ini baru jadi potongan kaosnya, tinggal
dicetak, kebetulan kemaren kelis sudah aku afdruk.” Sambil mengolah dan
mencampur cat Mogal pun menjawab pertanyaan Ce-er.
“ada yang perlu aku bantu?” Ce-er mencoba
menawarkan diri.
“ya
kalau kamu mau, tolong rebusin air dulu, buat bikin kopi, terus itu dilemari
kecil pojok dibuka pintunya di dalamnya ada bungkusan kacang dan keripik
singkong nanti sekalian dimasukan kedalam toples dekat meja”. Nah inilah
kebiasaan kami , kerja sambil ngobrol
dan ngopi, rasanya jadi semangat dan enjoy.Bersambung...........
Dikutip dari : Buku Tehpoci Gulabatu

Comments
Post a Comment