Seperti biasa sore itu di TPQ Al
Muallimin Kebondalem Pemalang Arul bersama teman-temannya menunggu dengan setia
cerita terbaru dari ustadz Hadzal.
“Siapa yang kepengin jadi orang kaya?” Tanya ustadz
Hadzal mengawali komunikasi dengan santri.
“Sayaaaaa” serentak mereka menjawab dengan mengangkat
tangan tinggi-tinggi, seakan tidak ada yang mau kalah satu dengan lainnya.
“Baiklah, saya berdo’a semoga yang ada di sini menjadi
anak-anak yang sukses dunia dan sukses juga di akhirat kelak. Kalian mau dengar
cerita dari ustadz? Tanya ustadz Hadzal
“Mauuuu” sahut mereka dengan semangat
“Kalau mau, atur tempat duduk kalian masing-masing,
tenang jangan ada yang cerita sendiri. Sepakat?” kata ustadz Hadzal
Serentak mereka menjawab,”sepakaat”.
Sore itu desa kebondalem terasa sepi, maklum curahan air
hujan yang begitu deras membuat orang enggan untuk keluar, apalagi jalanan
becek banyak lobang di sana-sini tergenang air hujan. Yang membuat sebel, kalau
sedang enak-enak lagi jalan ada kendaraan yang tidak sopan tancap gas sehingga
airpun muncrat ke mana-mana sampai mengenai sekujur tubuh.
Di tengah derasnya hujan terlihat seorang yang
tertatih-tatih berjalan menelusuri jalan desa. Pakaiannya sudah tidak layak
dipakai, compang-camping dan membawa gombal yang berisi perbekalan nampak ia
menghampiri rumah demi rumah untuk meminta sedekah. Dia terus menerobos
dinginnya guyuran air hujan yang belum tahu kapan akan berhenti. Dari kejauhan nampak
anak-anak bermain sepakbola di jalanan berlari kesana kemari tidak menghiraukan
keselamatan. Di sebuah rumah megah terlihat mobil sport mitshubisi pajero
terparkir dengan gagahnya di dalam ruang samping. Nampak dia sedang
mengetuk-ketuk pintu gerbang berkali-kali.
Sementara di dalam rumah megah itu Armendo sang pemilik
rumah sedang santai bersama anak dan istrinya di ruang tengah. Sambil menonton
tayangan televisi sebagai media hiburan saat ini. Sambil menyantap camilan dan
seruputan teh hangat, mereka bercengkerama sehingga tak mendengar suara dari
luar rumah.
“Mohon ma’af tuan Armendo, sepertinya di luar ada tamu”.
Kata Poniem sang pembantu rumah tangga yang tiba-tiba muncul dari belakang
rumah.
“Siapa? Disilakan saja duduk di kursi depan teras rumah.”
Sahut pak Armendo
“Baik tuan” Kata Poniem sambil melangkahkan kaki menuju
keluar rumah.
“Ya sebentar”sahut Poniem sambil membukakan pintu gerbang
rumah.
“Assalamu alaikum.” Kata orang itu beruluk salam
“Waalaikumus salam, ada keperluan apa ya?” sahut Poniem
sambil memandangi orang itu dari ujung rambut sampai ujung kaki penuh rasa iba.
“Namaku Marda seorang peminta-minta, maksud dan tujuanku
ke sini adalah minta sekedarnya uang atau makanan.” Jawab Marda sang pengemis
itu.
“Silakan duduk dulu di teras, biar kupanggilkan dulu tuan
yang punya rumah ini.” Kata Poniem
“Baik bu, terima kasih.” Sahut Marda sambil terbungkuk
berjalan menuju teras rumah.
“Yang datang Marda seorang pengemis tuan” kata Poniem
kepada Tuannya.
“Suruh pergi saja, gak ada budget buat pengemis!” kata
tuan Armendo
“Tapi tuan, kasihan dia. Kayaknya kelaparan apalagi
badannya basah kuyup kedinginan, dia sudah lanjut usia tuan”. Sahut Poniem
berusaha memberi penjelasan kepada tuannya.
“Dia kan bukan apa apanya aku, anak dia kemana? Kalau kamu
kasihan ya sana kamu saja yang ngasih. Tapi ingat loh, jangan sampai kamu ambil
makanan dari rumah ini!” kata Armendo
Dalam hati Poniem berkata, “Pelit kok dipelihara, memang
dia gak tau teori roda apa. Sekarang dia di atas angin suatu ketika bisa saja dia
dikolong meja.”
Poniem bergegas keluar, disana Marda sedang menunggu
dengan badan menggigil kedinginan, Poniem mengeluarkan uang recehan dari dalam
lipatan bajunya dan memberikannya kepada Marda.
“Pak Marda, kami mohon maaf kebetulan tidak ada makanan yang
bisa santap, ini hanya sekedar uang untuk bisa dibelikan minuman dan cemilan.”
Kata Poniem
“Terima kasih, tapi saya butuh inapan, kebetulan rumah
saya jauh dari sini badanku juga gak kuat lagi jalan jauh, kalau ibu berkenan
bolehkah aku menginap di rumah ini?” iba sang pengemis itu.
“Waduh pak Marda, saya gak berani ngomong sama juragan
saya, bakalan marah besar dia, tadi tuan berpesan agar pak Marda pulang saja.”
Kata Poniem
“Tolonglah bu, yang penting ibu ngomong saja sama tuan
kamu. Kalau ternyata dia tidak berkenan ya sudah.” Pinta pak Marda
“Baiklah pak Mar, akan segera saya sampaikan kepada
juragan.
“Saya kan sudah bilang tadi, suruh pergi pengemis itu,
kok malah mau nginep. Sudah sana kamu suruh pulang dia.” Perintah tuan Armendo
“Baik tuan sekalian saya juga pamit mau pulang.” Kata
Poniem sekaligus berpamitan pulang
“Bagaiman bu? Boleh gak saya nginep di sini?” tanya Marda
kepada Poniem
“Dia tidak berkenan pak, kalau bapak mau silakan nginep
di rumahku, kebetulan rumahku ada kamar kosong. Walaupun rumahku gubuk reot.
Tapi lumayan bisa melindungi kita dari guyuran air hujan.” Kata Poniem
menawarkan
“Baiklah kalau begitu saya nginep di rumah ibu, suami ibu
di rumah? Ibu punya anak gak?” tanya pak Marda
“Suami ada di rumah. Dia sedang demam jadi gak berangkat
kerja hari ini. Anakku sedang kuliah di Semarang. Dia juga bekerja di sana ya
maklum kalau tidak begitu tentu berat untuk kuliah.” Jawab Poniem
Poniem segera bergegas mengajak pak Marda ke rumahnya
kebetulan hujan sudah mulai mereda. Dan ternyata rumah Poniem hanya
bersebelahan dengan rumah tuannya tempat ia bekerja.
“Ini rumah kami, mudah-mudahan bapak berkenan, silakan
masuk.” Kata Poniem
“Assalaamu alaikum.” Kata pak Marda
“Waalaikum salam.” Jawab Sadli suami Poniem dari dalam
kamar.
Sadli bekerja sebagai seorang kuli bangunan, ia adalah
suami yang bersahaja. Kehidupannya pas pasan. Kalau dia sakit maka pemasukan
juga berkurang.
“Silakan masuk.” Kata Sadli yang nampak keluar dari
kamarnya.
“Bang ini Marda beliau dari desa yang jauh dari sini kebetulan
tadi saya ketemu di rumah tuan Armendo. Dia butuh tempat untuk menginap. Tuan
Armendo tidak berkenan memberi tempat. Langsung saja saya ajak pak Marda ke
sini.” Cerita Poniem singkat
“Ooh..begitu, ya sudah kamu nginep di sini saja kebetulan
ada kamar kosong, anak kami tidak di rumah. Pak Marda bisa menempati kamar itu,
tapi harap maklum beginilah gubuk kami bagaikan langit dan bumi dengan rumah
sebelah, maksudnya rumah tuan Armendo, pak Mar bisa mandi dulu terus ganti
pakaian, tentu pakaian pak Mar basah semua. Nanti ambilkan bajuku di lemari ya
bu.” Kata Sadli
“Ya pak, sebentar saya siapkan minum dulu buat pak Mar.”
Kata Poniem
“Waah, biasa saja pak, gak perlu berlebihan begitu. Saya
jadi gak enak.” Jawab pak Marda
“Tamu buatku adalah raja yang perlu penghormatan.” Sahut
Sadli
“Silakan pak Mar, bisa ke belakang ini pakain dan
handuknya.” Kata Poniem sambil memberikan baju dan celana milik suaminya.
Sembari menunggu pak Marda membersihkan badannya Poniem
menyiapkan teh hangat dan sepotong singkong untuk jamuan tamunya. Poniem dan
suaminya memang sudah dua hari terakhir ini sedang kekurangan sehingga mereka
hanya menggunakan singkong untuk dimakan. Dan persediaan singkong hari itu
tinggal sepotong dan mereka rela tidak makan demi tamunya.
Pak Marda pun selesai membersihkan badannya setelah itu
mereka bertiga berbincang di ruang tengah sambil menikmati teh hangat. Ditemani
temaram lampu minyak mereka melewati malam itu dengan keakraban.
“Silakan singkong rebusnya dimakan walaupun tinggal
sepotong, karena kami hanya punya itu.” Kata Sadli sambil menyodorkan piring
seng berisi sepotong singkong kepada pak Marda.
“Terus buat kalian mana?” tanya pak Marda
“Sudahlah makan saja, kami sudah biasa makan singkong,
besok saya ambil lagi lebih banyak kebetulan samping rumah ada kebun yang saya
tanami singkong.”
Tak butuh waktu lama singkong tersebut dilahap habis oleh
pak Marda. Nampak kalau perutnya kosong melompong. Sambil menyeruput teh hangat
yang telah disediakan mereka berbincang panjang lebar sehingga tak terasa kalau
malam semakin larut saja.
Akhirnya mereka bertiga melangkah
ke peraduan masing- masing. Mata mereka sudah tidak bisa diajak kompromi lagi.
Pak Marda menempati kamar depan sementara itu Sadli dan istrinya berada di
kamar belakang. Suara jangkrik serta katak mengorek secara bergantian serasa di
sebuah kontes lomba paduan suara. Mereka mengiringi jiwa yang sedang terlena
dengan sentuhan nada dan irama harmonis yang mengalun sepanjang malam yang diselimuti
dingin. Dengkuran pak Marda seakan menggambarkan begitu capeknya dia setelah
seharian berjalan dalam jarak yang lumayan jauh. Malam semakin larut saja suara
jangkrik menjelma menjadi suara kokokan ayam tanda malam berganti pagi sekitar
jam 00.30 pagi sepasang suami istri terusik dan terbangun dari tidurnya.Bersambung......
Dikutip dari : Buku Tehpoci Gulabatu

Comments
Post a Comment